SELAMAT DATANG

.. Apa yang aku pikirkan aku tulis ..
.. Apa yang aku rasakan aku tulis ..
.. Apa yang aku dengar aku tulis ..
.. Apa yang aku lihat aku tulis ..
.. Apa yang aku ingin ungkapkan aku tulis ..
.. Biarkanlah semua yang ada di sekitar dan di sekelilingku ,,
.. memberiku inspirasi untuk selalu membuat diriku menulis dan terus menulis ,,
.. BECAUSE INSPIRATION IS EVERYWHERE ..

>> WELCOME TO THE WORLD MY INSPIRATION <<

Kamis, 23 Juni 2011

MALAIKAT PELINDUNG


Suatu ketika ada seorang bayi yang siap untuk dilahirkan. Maka ia bertanya kepada Tuhan,”Ya Tuhan, engkau akan mengirimkan aku ke bumi. Tapi aku takut, aku masih sangat kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku di sana?”

Tuhan pun menjawab,”Di antara semua malaikat-Ku, Aku akan memilih seseorang yang khusus untukmu, dia akan merawat dan mengasihimu.” Si kecil bertanya lagi,”Tapi di sini di surga ini aku tak berbuat apa-apa, kecuali tersenyum dan bernyanyi. Semua itu sudah cukup untuk membuatku bahagia.” Tuhan pun menjawab, “Tak apa, Malaikatmu itu akan selalu menyenandungkan lagu untukmu dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih sayang, dan itu semua pasti akan membuatmu bahagia.” Namun Si kecil bertanya lagi,”Bagaimana aku bisa mengerti ucapan mereka, jika aku tak tahu bahasa yang mereka pakai?

Tuhan pun menjawab,”Malaikatmu itu akan membisikkanmu kata-kata yang indah, dia akan selalu sabar berada di sampingmu. Dan dengan kasihnya dia akan mengajarkanmu berbicara dengan bahasa manusia. Si kecil bertanya lagi,”Lalu bagaimana jika aku ingin berbicara padamu Ya Tuhan?”

Tuhan pun kembali menjawab,”Malaikatmu itu akan membimbingmu, dia akan mengadahkan tangannya bersamamu dan mengajarkanmu untuk berdoa,” lagi-lagi Si kecil menyelidik,”Namun aku mendengar di sana banyak sekali orang jahat, siapakah nanti yang akan melindungiku?”

Tuhan pun menjawab,”Tenang, malaikatmu akan terus melindungimu walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Dia sering akan melupakan kepentingannya sendiri untuk keselamatanmu.” Namun si kecil kini malah menjadi sedih,”Tuhan tentu aku akan menjadi sedih jika tak melihat-Mu lagi.

Tuhan menjawab lagi,”Malaikatmu akan selalu mengajarkan keagungan-Ku, dan dia akan mendidikmu bagaimana agar selalu patuh dan taat kepada-Ku. Dia akan selalu membimbingmu untuk selalu mengingat-Ku. Walau begitu aku akan selalu ada di sisimu.

Hening, kedamaianpun kembali menerpa surga. Suara-suara penggilan dari bumi mulai sayup-sayup terdengar.”Ya Tuhan, aku akan pergi sekarang, tolong sebutkan nama dari malaikat pelindungku itu...

Tuhan kembali menjawab,”Nama malaikatmu itu tak begitu penting. Hanya saya kamu akan sering menyebutnya dengan panggilan: Ibu...

( Dikutip dari buku THE LIGHT OF A LITTLE CANDLE , CAHYO SATRIA WIAJAYA )

Tunggu Kisah Insipiratif Lainnya Dari Buku Ini ,, J

Rabu, 22 Juni 2011

GARAM DAN TELAGA


Suatu ketika hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan raut mukanya ruwet. Tamu itu memang tampak seperti orang yang tidak berbahagia.

Tanpa membuang waktu orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak itu hanya mendengarkan dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamu itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu di aduknya perlahan. “Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya”, ujar pak tua itu.

Pahit.. Pahit sekali rasanya...”, jawab tamu itu sambil meludah ke samping.

Pak tua sedikit tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga di dalam hutan di dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak tua kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang-gelombang dari adukan-adukan itu yang menciptakan riak-riak air.”Coba ambil air telaga ini dan minumlah”, perintah Pak Tua. Saat tamu itu selesai meneguk air itu, Pak tua kembali bertanya, “Bagaimana rasanya?”

Segar”, sahut tamunya,”Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, Tanya pak tua lagi. “Tidak” jawab si anak muda.

Dengan kebapakan Pak tua menepuk-nepuk punggung anak muda itu. Ia lalu mengajak duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.”Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan itu adalah layaknya segenggam garam, tidak lebih dan tidak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama. Dan memang akan tetap selalu sama.

Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.

Pak tua itu kembali memberi nasehat,”Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan pak tua, ‘sang orang bijak’, kembali menyimpan ‘segenggam garam’ untuk anak muda lain yang sering datang kepadanya membawa keresahan jiwa.

( Dikutip dari buku THE LIGHT OF A LITTLE CANDLE , CAHYO SATRIA WIAJAYA )

Tunggu Kisah Insipiratif Lainnya Dari Buku Ini ,, :)

PAKU


Suatu ketika  ada seorang anak laki-laki yang mempunyai sifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan pemarahnya, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memamukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali dia marah.

Hari pertama anak itu telah memakukan 48 buah paku ke pagar. Lalu secara bertahap jumlah itu mulai berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar rumah.

Akhirnya tibalah waktu dimana anak itu merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya.” Sang terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan kata-katanya,”Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahanmu, kata-katamu telah meninggalkan bekas seperti lubang ini.. di hati orang lain.

kamu dapat memasukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu, tetapi tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka tusukan itu akan tetap selalu ada dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik kita.

( Dikutip dari buku THE LIGHT OF A LITTLE CANDLE , CAHYO SATRIA WIAJAYA )

Tunggu Kisah Insipiratif Lainnya Dari Buku Ini ,, :)

Amarah dan emosi tidak akan menyelesaikan masalah yang kita hadapi, bahkan akan membuat masalah itu menjadi masalah yang tambah rumit dari sebelumnya dan bahkan akan menimbulkan masalah baru di dalamnya.

Saat kita marah kita hati kita memang lega akan tetapi akan timbul penyesalan di akhirnya, pasti akan timbul pertanyaan ,”kenapa aku tadi marah ? Seandainya aku tadi tidak marah semuanya tidak akan seperti ini ?

Kemarahanan tidak akan pernah menguntungkanmu malah akan merugikanmu,, tahan emosi sebisa mungkin dan selesaikan masalah apapun itu tanpa emosi akan tetapi dengan pikiran yang tenang. Insya Allah masalah itu akan terselesaikan dengan lebih baik. Dan jika lebih baik lagi jika cacian dari orang lain kalian balas dengan keramahan,, Keramahan dari kalian Insya Allah akan membuat orang yang mencaci dan menjelekkan kalian akan membuat hati orang itu menjadi luluh dan malu untuk mencaci dan menjelekkan kalian lagi,, Insya Allah semuanya akan lebih baik ,, :)

Dan ingatlah  . . . “ Allah SWT akan selalu bersama orang – orang yang sabar “
Percayalah itu kawanku :)

( Hal seperti di atas telah saya alami sendiri ,, kemarahan sangat merugikan dalam hidup saya )